Razia Knalpot Racing, Antara Pro dan Kontra

212
views
Pro kontra razia knalpot racing, sesuai atau tidaknya razia yang dilakukan oleh pihak kepolisian terhadap pegguna knalpot racing.

andikadiego.net – Jakarta. Razia knalpot racing, antara  pro dan kontra. Dewasa ini banyak beredar produk-produk knalpot after market yang menawarkan beragam jenis mulai dari suara yang dihasilkan hingga harga yang relatif terjangkau. Setiap produk memiliki tinggkat kebisingan berbeda-beda pula. Ada yang masih relatif aman hingga mencapai tingkat kebisingan melebihi ambang batas normal.

Baca juga : Gosip Kehadiran Suzuki GSX250R di Indonesia, Apa Keunggulannya Dibandingkan Para Rivalnya?

Di Indonesia, negara kita tercinta ini memiliki peraturan tentang aturan kebisingan knalpot yang diatur dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 7 tahun 2009. Dalam aturan tersebut dijelaskan, bahwa tingkatan kebisingan untuk motor kapasitas 80cc hingga 175cc adalah maksimal 83 dB dan di atas 175cc maksimal 80 dB. (dB=Decibel / satuan keras suara).

Secara pearaturan sudah dijelaskan mengenai tingkat kebisingan suara knalpot yang dapat ditolerir, karena itu sebaiknya menggunakan knalpot yang sesuai dengan apa yang tertuang pada peraturan yang telah dibuat.

Nah, baru-baru ini viral mengenai adanya razia knalpot racing yang dilakukan di daerah lembang, Bandung, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Terus terang, saya merupakan salah satu orang yang tidak menyukai bisingnya knalpot racing, tapi tidak semua tentunya hanya beberapa produk saja yang memang menghasilkan suara hingga dapat memekakan telinga.

Lalu apa pendapat saya mengenai razia yang dilakukan kepolisian beberapa waktu lalu tersebut. Saya pribadi setuju-setuju saja dengan razia yang dilakukan, tetapi ada beberapa hal yang hendaknya bisa menjadi catatan bagi kepolisian setempat dalam melakukan razia serupa.

Alangkah lebih baik jika ke-Polisian ataupun pihak-pihak terkait dibekali dengan alat pengukur tingkat kebisingan suara (Sound Level Meter) saat melakukan razia. Jadi harus dipilah juga mana knalpot yang menghasilkan suara bising dengan knalpot yang masih termasuk dalam ambang batas sesuai peraturan yang berlaku. Tidak semua diperlakukan sama, mentang-mentang bukan knalpot standar dianggap bahwa melanggar peraturan, ya maaf, gak gitu juga lah.

Lalu hukuman yang didapatkan oleh para pengguna motor dengan knalpot racing. Mereka dipaksa mendengarkan suara knalpot motor mereka sendiri, saya sih setuju saja jika maksudnya untuk membuat efek jera. Tapi jujur saja, saya malah kasihan dengan mereka, biar bagaimanapun tidak baik untuk kesehatan. Mereka diharuskan mendengarkan suara knalpot motor tepat didepan daun telinga. Bagaimana jika mereka tiba-tiba tidak dapat mendengar karena pecahnya gendang telinga, wah bisa dituntut itu. Lalu secara tidak langsung mereka juga menghirup udara karbon dioksida yang dihasilkan dari lubang knalpot, pastinya juga tidak baik untuk kesehatan.

Karena itu alangkah lebih bijak jika hukuman untuk para pengguna knalpot racing sebaiknya dirubah saja. Misalkan menahan motor mereka, mereka bisa menebus motor miliknya jika membawa knalpot standar pabrikan, tentunya dikenakan denda yang besarnya mungkin dapat difikirkan pihak terkait, dan menurut saya itu lebih manusiawi ketimbang memaksa mereka mendengarkan bisingnya suara knalpot racing langsung pas di samping daun telinga.

Itu hanya pandangan pribadi saya saja, sebagai seorang pecinta roda dua, yang menggunakan motor untuk keperluan sehari-hari. Terlepas dari pandapat orang, setuju atau tidak setuju. Mungkin kawan-kawan ada yang memiliki pendapat sendiri, monggo share dikolom komentar.

Ingat, tidak semua knalpot racing menghasilkan suara yang melebihi ambang batas kewajaran, ada beberapa produk yang telah mengikuti peraturan yang dibuat oleh Pemerintah.

Baca juga : Penjualan Motor Bebek Alami Penurunan Signifikan, Indikasi Ditinggalkan Masyarakat

 

Text : andika                Pict by andika              Video Youtube from Guswa Fourtysix

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here